Minggu, 12 Juli 2015

Didalam kesusasteraan para ahli bahasa ataupun ahli adat juga tidak dapat menetapkan secara pasti tentang kalimat kalimat pepatah, petitih, pituah dan mamangan. Lain orang lain pendapatnya dan lagi kalimat kalimat yang dikatakan pepatah atau petitih, pituah atau mamangan. Apa yang dikatakan pepatah, petitih, pituah atau mamangan bertolak dari pengenalan adat Minangkabau.
Pada suatu massa dahulu Minangkabau adalah suatu nagari dari suatu bangsa yang mempunyai falsafah hidup sendiri sebagai pegangan dalam menjalankan hidupnya. Kebudayaan Minangkabau diamalkan oleh bangsanya, lebih dari pengamalannya terhadap agama dan falsafat negara yang dianutnya dewasa ini.
Setiap orang Minangkabau lebih mahir mengucapkan pepatah daripada mengucapkan hadis dan agamanya.
Penggunaan istilah pepatah, petitih, pituah dan mamangan ditemui dalam pidato pidato adat, baik oleh penghulu didalam kerapatan Nagari ataupun oleh janang didalam berbagai seremoni adat Minangkabau. Orang awampun bisa juga mengucapkan istilah pepatah pepatah itu dalam saat ia akan menggunakan peribahasa.
Apabila kita hendak meninjau status penghulu dalam nagari masing masing jelaslah statusnya sama dengan "Staatment" didalam suatu negara. Dan memanglah status nagari nagari di Minangkabau tak obahnya dengan status negara negara dimanapun juga. Apa yang diucapkan para "staatment" dalam parlement ataupun sidang sidang pemerintahan negaranya, demikian juga apa yang diucapkan oleh para penghulu dalam kerapatan adat.
Para staatment mengemukakan argument dengan memakai undang undang falsafah negara didalam pembicaraannya, maka didalam nagari undang undang serta falsafah disebut cupak. Cupak menurut hukum minangkabau adalah dua yakni cupak usali dan cupak buatan. Cupak usali dan cupak buatan ini mengandung segala unsur hukum yang menguasai dan dikuasai.
Seperti hukum alam, hukum manusia dengan alam, hukum manusia dengan manusia, hukum manusia dengan masyarakat. Berdasarkan kenyataan bahwa filsafat adat minangkabau bersumber dengan falsafat alam, seperti yang diungkapkan oleh pantun :
            Panakiak pisau sirauik
            Patungkek batang lintabuang
            Salodong ambia ka niru
            Satitiak jadikan lauik
            Sakapa jadkan gunuang
            Alam takambang jadikan guru.

Didalam menyebutkan kekuatan adat Minangkabau selalu diungkapkan dengan :
           Adaik nan sabana adaik
           Indak lapuak dek hujan
           Indak lakang dek paneh 
Macam adat yang sekekal itu diungkapkan dengan :
           Adaik api mahanguihkan
           Adaik aia mambasahi.

Jadi jelaslah bahwa menurut alam pikiran minangkabau yang berguru kepada alam itu, hukum alam itulah adat yang sebenarnya, yang boleh diartikan hukum yang sebenarnya.
Prof. Kuntjaraningrat didalam kongres bahasa Indonesia pada tahun 1954 di Medan pernah mengatakan, bahwa pepatah petitih minangkabau adalah "levende rechtstaal" yakni bahasa hukum yang hidup. Maka kian jelaslah bahwa pepatah, petitih, petuah dan mamangan yang juga disebut sebagai cupak usali dan cupak buatan itu adalah undang undang hukum alam minangkabau.
Cupak usali diartikan dalam bahasa Indonesia dengan takaran asli atau hukum asli. Hukum yang asli adalah hukum alam dan hukum manusia dengan alamnya.
Hukum mana tidak dapat dibuat oleh manusia. Didalam menelaah berbagai ungkapan pribahasa yang diucapkan para penghulu didalam kerapatannya, ditemukan berbagai kalimat yang melukiskan hukum hukum alam dan hukum hukum manusia dengan alamnya itu.
Kalimat hukum alam itu ialah :
         Kuniang kunyik, putiah kapua
         Merah sago, kuriak kundi
         Manciok ayam, badanciang basi
         Bulek manggolong, picak malayang
         Hinggok mancakam, tabang manumpu

Dan lain lain . Sedang kalimat yang berbentuk hukum manusia dengan alamnya atau hukum alam dengan manusianya dapat pula ditemui seperti :
         Kabukik mandaki, kalurah manurun
         Kalam disigi, lakuang ditinjau
         Panjang dipunta, singkek diuleh
         Tatungkuik makan tanah
         Tatilantang minum aia
         Padiah disuahkan, sakik diharangkan 
Dan lain lain Kedua macam jenis kalimat ini, sebagai cupak usali yang kebenaran tak tertanding, inilah jenis kalimat yang dinamakan pepatah petitih.
Pepatah adalah jenis kalimat yang melukiskan hukum alam, sedang petitih ialah jenis kalimat yang melukiskan hukum manusia dengan alamnya. Kata adat tantang kato usali ini adalah :
        Barih baukua jo pepatah
        Balabeh bajangko jo patitih

Barih baukua jo pepatah itu disebutkan ANGGO (Pakaian) sadang balabeh bajangko jo petitih disebutkan ANGGA (tangga) artinya dapat ditafsirkan untuk mencapai inggo diperlukan tanggo. Dan barih baukua jo pepatah dapat ditafsirkan sebagai kebenaran baris yang berbanjar dinilai hukum alam.
Sedang balabeh dijangko jo petitih dapat ditafsirkan panjangnya sebuah ukuran kemampuan manusia dinilai dengan kemampuan hidupnya dengan alam.
Cupak buatan sesuai dengan namanya hukum yang diciptakan oleh manusia untuk keperluan mereka bersama, yang tercakup kedalam 2 pola, yakni hukum manusia dengan sesamanya, dan hukum manusia dengan masyarakatnya. Jadi hukum ini dapat berobah menurut situasi dan kemampuan manusia yang memakainya.
Didalam menelaah berbagai ungkapan peribahasa yang diucapkanoleh para penghulu didalam kerapatannya, ditemani berbagai kalimat yang melukiskan hukum manusia dengan sesamanya dan hukum manusia dengan masyarakat itu. Kalimat yang melukiskan hukum dengan sesamanya itu adalah,
          Mandapek balabo, hilang marugi
          Mancancang mamampeh, mambunuah,
          Mambangun, barutang mambayia
          Bapiutang manarimo.
          Elok dipakai, cabuah dibuang
          Janji bakarang, padan baukua

Dan lain lain Kalimat ini melukiskan hukum manusia dengan masyarakatnya, yang senantiasa disebutkan dalam pidato adat terdapat kalimat2 seperti :
          Anak dipangku, kamanakan dibimbiang
          Luhak bapanghulu, rantau barajo
          Kampuang batuo, rumah batungganai
          Tagak panghulu sakato kaum
          Tagak andiko sakato nagari
          Pusako ditolong, warih dijawek

Cupak buatan yang melukiskan hukum sesama manusia disebut "pituah", sedang hukum manusia dengan masyarakatnya disebut "mamangan"
Bentuk Dan Variasi Kalimat.
Bentuk kalimat pepatah, petitih, pituah dan mamangan sangatlah sederhana dan isinya yang lumrah. Kalimat kalimat itu dibangun berpasangan dalam dua bagian. Umumn setiap bagian terdiri dari dua buah kata.
Umpamanya setiap bagian terdiri dari dua buah kata. Barisan pertama bersinonim (persamaan arti) yang sejajar atau melintang dengan bagian kedua, hingga merupakan empat kata seperti lazimnya dengan gaya pantun. Didalam pidato adat kalimat kalimat itu diberi berbagai variasi dengan macam kata lainnya dan diucapkan beruntun dengan kalimat sinonim lainnya. Pemakaian kalimat pepatah boleh bercampur baur dengan kalimat petitih, mamangan atau dengan pituah, berdasarkan keperluan. Demikian juga kalimat kalimat tersebut dapat diolah sedemikian rupa, tapi dalam pengucapannya haruslah menurut ritme kalimat yang mendahuluinya.
Contoh kalimat asli berbunnyi :
         Kareh ditakiak, lunak disuduDapat diolah menjadi :
         · Kok kareh buliah ditakiak, kok lunak buliah disudu
         · Kok kareh indak tatakiak, kok lunak indak tasudu
         · Inyo nan kamanakiak yang kareh, inyo nan kamanyudu nan lunak
         · Indak ado kareh nan indak ditakiaknyo, indak ado nan lunak nan indak disudunyo 

Dapat lagi diolah jadi kalimat sebaliknya :
         Ã‚· Kok kareh buliah ditakiak, kok lunak indak tasudu
         · Kok kareh indak ditakiaknyo, kok lunak disudunyo
         · Inyo indak manakiak nan kareh, tapi inyo manyudu nan lunak
         · Indak ditakiaknyo nan kareh, indak disudunyo nan lunak
Contoh  bagian kedua bukan lagi semacam ucapan ucapan yang bernilai yang dapat diucapkan penghulu didalam kerapatan. Bagian kedua ini adalah selera orang orang banyak belaka.
Contoh lain kalimat kalimat pepatah, petitih, pituah dan mamangan diucapkan didalam pidato-pidato adat dengan berurutan sekalimat demi sekalimat yang sinonim artinya.
Tambah banyak kalimat kalimat sinonim itu dapat dikemukakannya tambah menonjollah kecendikiawanannya. Umpama :
         Lah bulek aia dek pambuluah
         Lah bulek kato dek mupakaik
         Kok bulek alah buliah digolongkan
         Kok picak alah buliah dilayangkan
         Lah saciok bak ayam
         Alah sadanciak bak basi
         Kok tarapuang alah samo hanyuik
         Kok tarandam alah samo basah
         Ka bukik samo mandaki
         Ka lurah samo manurun
         Barek samo dipikua
         Ringan samo dijinjiang
         Tatungkuik samo basah
         Tatilandang samo minum aia.
Dan lain lain
Sumber : Buletin sungai Pua No. 46 April 1994 

Senin, 06 Juli 2015

SENI BUDAYA KITA: PETATAHPETITIH MINANG KABAU ?Petatah Petitih MINA...

SENI BUDAYA KITA: PETATAHPETITIH MINANG KABAU ?
Petatah Petitih MINA...
: PETATAH PETITIH MINANG KABAU ? Petatah Petitih MINANGKABAU Adalah sebuah pribahasa untuk perumpamaan yang biasa dipakai untuk nasehat p...
PETATAH PETITIH MINANG KABAU ?

Petatah Petitih MINANGKABAU Adalah sebuah pribahasa untuk perumpamaan yang biasa dipakai untuk nasehat para guru guru kepada murid nya, ayah pada anak nya pada zaman dahulu dan juga dipakai untuk acara – acara adat,, misal nya “: penyambutan tamu pada saat presepsi,, atau pun penyambutan tamu pada acara lain nya..
Berikut adalah beberapa contoh dari sekian banyak petatah petitih Munangkabau yang dapat anda baca,, terimakasih.

Alam takambang jadi guru – Alam terkembang jadi guru: Pribahasa utama orang Minangkabau yang memiliki arti bahwa orang Minang haruslah dinamis dan bisa belajar dari alam. Orang Minang harus bisa menyesuaikan dan mengembangkan dirinya dimanapun ia berada. Baik di Kampung atau pun di Rantau, orang Minang dituntut bisa menjadi Rahmatan Lil Alamin

Mandapek sasikek, pisang bakubak – Mendapat sesisir pisang terkupas: Mendapat sesuatu tanpa bersusah payah

Rancak di labuah – seseorang yang elok parasnya dan rapi di tempat umum, tetapi keadaan rumah tangganya tidak keruan

 Saari saalai banang, lamo-lamo manjadi salai kain – Sedikit-sedikit lama lama menjadi banyak

Sabilah papan nan rusak, sabilah juo dipaeloki – Sebilah papan yang rusak, sebilah juga diperbaiki: orang yang bersalah menanggung akibat dari perbuatannya

Sakabek bak siriah sarumpun bak sarai – Seikat bak sirih serumpun bak serai: persatuan kokoh dalam satu kelompok
Sakarek ula, sakarek baluik – Sekerat ular sekerat belut: orang yang tidak memiliki pemahaman utuh akan sesuatu perkara, sehingga suka main comot sana dan sini tanpa mengerti konsepnya.
Satitiak jadikan lauik, sakapa jadikan gunuang – Mengembangkan apa yang didapatkan walaupun sedikit dan mensyukurinya.
Syarak mangato, adat mamakai – Syarat memberikan hukum, adat mengamalkannya.

Takuruang nak dilua, taimpik nak diateh – terkurung hendak di luar, terjepit hendak di atas: orang yang licik dan ingin menang sendiri (pendapat umum) tapi sebenarnya itulah kebenaran itu, jika kebenaran dikunci, maka ia akan mendesak untuk dibebaskan, jika ia terhimpit, ia akan mencari cara untuk ke atas alias bebas.

itulah beberapa contoh petatah petitih Minangkabau yang bisa kita baca bersama mudah - mudahan bermamfaat buat pembaca dan tentunya buat saya sendiri, terimakasih..

Selasa, 30 Juni 2015

Pupuik Batang Padi

Alat musik tradisional ini dibuat dari batang padi. Pada ujung ruas batang dibuat lidah, jika ditiup akan menghasilkan celah, sehingga menimbulkan bunyi. Sedangkan pada ujungnya dililit dengan daun kelapa yang menyerupai terompet. Bunyinya melengking dan nada dihasilkan melalui permainan jari pada lilitan daun kelapa.
Sekarang pada menjelang tahun baru ada terompet tahun baru yang mirip dengan alat musik ini, bedanya sekarang memakai plastik dan corong memakai karton, dan diberi warna warni emas.
Alat musik ini biasa nya dimainkan padasaat acara mengiringi penganten ber jalan berkeliling kapunng yang biasa silakaukan oleh masyarakat minang yang bertujuan untuk memperkenalkan kedua mempelai. disamping alat musik pupuik batang padi juga diiringi oleh tambua ( Gendang ) di maniskan dengan bunyi talempong pacik yang memakai nada ( do re mi fa sol ) 
Tambua dan talempong pacik akan kita ulas pada kesempatan berikut.. wassalaam,,, 

Pupuik Batang Padi

Alat musik tradisional ini dibuat dari batang padi. Pada ujung ruas batang dibuat lidah, jika ditiup akan menghasilkan celah, sehingga menimbulkan bunyi. Sedangkan pada ujungnya dililit dengan daun kelapa yang menyerupai terompet. Bunyinya melengking dan nada dihasilkan melalui permainan jari pada lilitan daun kelapa.
Sekarang pada menjelang tahun baru ada terompet tahun baru yang mirip dengan alat musik ini, bedanya sekarang memakai plastik dan corong memakai karton, dan diberi warna warni emas.
Alat musik ini biasa nya dimainkan padasaat acara mengiringi penganten ber jalan berkeliling kapunng yang biasa silakaukan oleh masyarakat minang yang bertujuan untuk memperkenalkan kedua mempelai. disamping alat musik pupuik batang padi juga diiringi oleh tambua ( Gendang ) di maniskan dengan bunyi talempong pacik yang memakai nada ( do re mi fa sol ) 
Tambua dan talempong pacik akan kita ulas pada kesempatan berikut.. wassalaam,,, 

Sabtu, 27 Juni 2015

Saluang Minang Adalah Salah Satu Warisan Budaya Indonesia

Siapa yang tidak suka musik? karena musik memiliki daya tarik tersendiri, tidak hanya itu, musik dijadikan salah satu terapi dalam membantu pemulihan atau kesembuhan, selain itu, ada diantaranya yang menjadikan musik sebagai salah satu media untuk membantu proses istirahat atau tidur, dan membantu untuk fokus dalam menghafal atau membaca. Namun tidak semua musik bisa disukai atau diterima di telinga manusia. Oleh karena itu, semakin banyak orang yang membuat grup dan alunan musik yang menarik, sebab denagn hal ini bisa mendongkrak popularitas dan seleri yang menjanjikan.       

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjmu4GDOi9YWWJUhxbpRSftB43-Nc2ct3lp3caN4Zx_5Np-O54GYfJfb0vlULSqCyfJRGb_W-rujhv6NxicKgxy0n60MalZc32yzN4QuiYZfzRije3xWdHLTiGK7MS8wNdIgKTxMkCAEds/s1600/Saluang-+Alat-Musik-Tradisional-Sumatra-Barat.jpg
     Kira-kira musik apa yang paling anda sukai untuk menemani waktu santai dan istiraha anda? seiring perkembangan zaman, industri musik di setiap negara tumbuh dengan subur, jenis-jenis musikpun semakin dikenal dan memasyarakat, namun sebagai masyarakat yang tidak terlepas dari sejarah dan memiliki jati diri bangsa, sudah selayaknya kitapun tidak melupakan dan melestarikan musik dan alatnya yang merupakan hasil cipta dan karya bangsa sendiri. Sebab selain memiliki nilai budaya dan sejarah, alat musik tradisionalpun dapat menghasilkan musik yang menarik dan merdu seperti alat musik modern lainnya. Namun hal ini tidak disadari oleh banyak orang, sehingga alat musik dan musik hasil karya bangsa Indonesia semakin hari semakin terkikis. Dari sekian banyak alat musik tradisional yang dimiliki bangsa Indonesia, Saluang adalah alat musik yang memiliki suara yang khas. Berbicara soal nama alat musik, nama Saluang Secara etomologis, diambil dari nama seruling panjang yang kerapkali menjadi alat musik pengiring dalam pertunjukan musik ini. Selain itu, Saluang memiliki sebuta atau istilah lain yaitu Saluangjo dan Dendang-saluang.

Asal Daerah 
Saluang merupakan salah satu alat musik tradisional yang khas, yaitu dari daerah Minangkabau, Sumatera Barat.

Cara Memainkan dan Membuat 
Cara Membuat alat Musik Saluang 
Seperti jenis seruling pada umumnya, alat musik tiup ini terbuat dari bambu tipis atau talang (Schizostachyum brachycladum Kurz). Orang Minangkabau percaya bahwa bahan yang paling bagus untuk dibuat saluang berasal dari talang untuk jemuran kain atau talang yang ditemukan hanyut di sungai, namun dalam pembuatan alat musik ini lebih sederhana, yaitu :
Panjang : 40-60 cm dengan diameter 3 sampai 4 meter dan tebal kurang dari 1 mm, untuk lubangnya, kita cukup membuat 4 lubang saja, agar dapat menghasilkan nada yang bagus, lubang dibuat bulat sempurna dengan ukuran garis tengah 0.5 cm. Untuk bagian atas dan bawahnya dibiarkan berongga atau berlubang, bagian atas berfungsi untuk meniup dan bawah berfungsi unuk tempat keluarnya udara, hal ini merupakan salah satu yang membedakan pembuatan seruling biasa dan saluang, pada bagian atas atau tempat untuk meniupnya dibuat meruncing sekitar 45 derajat sesuai ketebala bambu atau talang tersebut. Masyarakat minang menyebut dengan istilah Suai. untuk membaut luabng, anda harus menghitung jarak 2/3 dari panjang keseluruhan saluang, yang dihitung dari bagian atas, disitulah lubang pertama dibuat, sedangkan untuk luabng kedua dan ketiga, dibuat dengan jarak yang sama dari lubang ke lubang dengan jarak setengah lingkaran rongga bambu.


Cara Memainkan Saluang 

Hal yang utama dalam memain kan saluang ini adalah cara meniup dan menarik nafas secara bersamaan, sehingga peniup saluang dapat memainkan alat musik itu dari awal dari akhir lagu tanpa putus (circular breathing). Teknik yang dinamakan manyisiahango kini dapat dikuasai dengan latihan yang berkesinambungan. Jangan lupa tiuplah dari bagian atas yang telah di runcingkan atau di suai agar nyaman dan mudah mengatur posisi mulut dengan posisi ujung saluang berada pada samping bibir. Selain itu, kekhasan dan keunikan alat musik ini terdapat pada gaya memainkan saluang yang berbeda-beda. Setiap daerah di Minangkabau memiliki cara tersendiri dalam hal meniup saluang. Tiap nagari di Minangkabau mengembangkan sendiri cara meniup saluang. Hal inilah yang menyebabkan keragaman gaya meniup dan memainkan saluang. Singgalang, Pariaman, Solok Salayo, Koto Tuo, Suayan dan Pauah adalah nama daerah sekaligus nama gaya dalam meniup saluang. Gaya Singgalang dianggap cukup sulit dimainkan oleh pemula, dan biasanya nada Singgalang ini dimainkan pada awal lagu. Ratok Solok dari daerah Solok menjadi gaya yang paling sedih di telinga.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEihvh6m91kQR8RRxODfnAKqePDpidNseuBUSqpwd7Ysw1e2HnHBUlw3yFxdraHN1eYVPQ-LYEnHYlgnGzNTyU2KrHqkFHPen_VYNWRMmHls3oNPCrny0u4r425urXfcw2574ndfnHJeXnA/s1600/Alat-Musik-Tradisional-Sumatra.jpg

  
    Dimanakah kita bisa mnikmati alunan musik ini? Perkawinan, batagak rumah, batagak pangulu, dan lain-lain merupakan acara yang biasa menyuguhkan permainan musik ini. Apabila kita ingin menikmati permainan saluang ini, hendaknya datang ke acara tersebut setelah salat Isya dan baru akan berakhir menjelang subuh. Dendangan para dara-dara cantik Minang bisa menjadi daya tarik tersendiri. Selain kelihaian para pemainnya, dendangan saluang sendiri berisikan pesan, sindiran, dan juga kritikan halus. Dendangan tersebut dapat mengembalikan ingatan si pendengar terhadap kampung halaman ataupun terhadap kehidupan yang sudah, sedang, dan akan dijalani.
      Berikut judul-judul lagu saluang yang banyak dikenal di masyarakat Minangkabau, antara lain: Ambun Pagi, Lubuak Sao, MuaroLabuah, Padang Magek, Ratokkoto Tuo, dan Ratok Solok


Masudabid1983@gmail.com

Jumat, 26 Juni 2015

SENI BUDAYA KITA: contoh rpp kurikulum nasional 2013

SENI BUDAYA KITA: contoh rpp kurikulum nasional 2013: KELOMPOK SENI MUSIK :   Penyusunan dan Penelaahan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Tujuan Kegiatan:              Mela...